Advokasi Pemulihan Pecandu Narkoba (Recovery Advocacy)

index

Advokasi Pemulihan Pecandu Narkoba (Recovery Advocacy)

 

Berbagai masalah pecandu yang dijumpai di masyarakat, seringkali menimbulkan banyak pertanyaan sebagai berikut;

1.    Apakah mereka boleh sekolah atau harus dikeluarkan ?

2.    Apakah mereka diperkenankan tetap bekerja atau dikeluarkan/PHK ?

3.    Apakah bisa menjadi anggota TNI/POLRI kalau sudah pulih ? Atau apakah anggota TNI/POLRI yang pakai narkoba harus dipecat ?

4.    Apakah mereka boleh menjadi ketua RT/RW atau ketua Ormas ?

5.    Mengapa ASKES tidak mau menanggung upaya pemulihan mereka ?

6.    Mengapa seorang pecandu harus dihukum penjara, walaupun adiksi diakui sebagai penyakit ? dll

 

Pertanyaan-pertanyaan diatas timbul karena kontroversi akibat masih adanya stigma dan diskriminasi terhadap pecandu.

Bukan tanpa sebab, karena ulah pecandu juga yang sering meresahkan masyarakat selain pendekatan terapi adiksi sebagai suatu masalah akut dan tidak menyeluruh kendati adiksi narkoba adalah masalah yang kompleks. Yang menurut istilah Hillary Clinton butuh peran orang sekampung (it takes a village).

Beruntunglah, sejak 2011 SAMHSA (Substance Abuse and Mental Health Service Administration) suatu badan yang berperan dalam layanan narkoba dan gangguan jiwa di kementerian kesehatan Amerika mengenalkan istilah “recovery”.

Istilah ini merupakan penyatuan definisi kerja bagi pemulihan pecandu narkoba dan gangguan jiwa yang kompleks dan  perjalanan penyakitnya bersifat kronis-jangka panjang.Dengan pendekatan ini maka pemahaman dan pemulihan pecandu narkoba lebih menyeluruh atau komprehensif.

Istilah ini menempatkan pecandu sebagai agent of recovery, titik sentral dalam pemulihan dirinya dan mantan pecandu lebih tepat disebut recovering addict atau orang dalam pemulihan. Pecandulah yang memegang peran utama dan aktif dalam upayanya menjadi bebas dari narkoba (drug free), sehat fisik dan mental, sejahtera(Wellness) serta meningkat kualitas hidupnya. Sangat berbeda sekali dengan istilah terapi/pengobatan yang konotasinya upaya yang berasal dari luar diri pecandu dan berlangsung dalam suatu episode singkat.

Dengan recovery, sudut pandang upaya pemulihan berubah menjadi upaya jangka panjang(long term) dan keterlibatan pecandu itu sendiri sangat penting/ client-directed.

Kemudian aktifitas pemulihan lebih tepat disebut sebagai manajemen pemulihan/recovery management. Pecandu sendirilah yang merupakan subjek yang aktif, sejak asesmen,perencanaan hingga monitoring dan evaluasi. Walaupun pada awalnya difasilitasi oleh para profesional adiksi untuk kemudian saling berkolaborasi.

Dari sudut pandang recovery ini, berkembang 12 prinsip-prinsip komprehensif yang merupakan penuntun dalam upaya recovery pecandu narkoba.

Salah satu prinsip penting panduan pulihnya seorang pecandu adalah proses mengatasi stigma dan diskriminasi. Dua hal yang merupakan cap buruk pecandu yang selama ini dikenal sangat menghambat proses recovery.

Proses ini adalah elemen dalam manajemen pemulihan yang dikenal sebagai advokasi pemulihan/recovery advocacy disamping 6 elemen lainnya.

Melalui advokasi diharapkan terjadi perubahan kebijakan sosial maupun institusional. Selain itu perlu dilengkapi dengan advokasi terhadap sistem yang medukung upaya pemulihan jangka panjang ( long-term recovery )

Advokasi terhadap kebijakan sosial dan kelembagaan ini ditambah advokasi terhadap sistem pendukung tentu dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas.

Masalahnya kemudian, siapkah kita menjadi advokator bagi suatu perubahan yang membantu pemulihan pecandu ? Kuatkah komitmen kita untuk melakukan advokasi kearah pemulihan pecandu di tengah pesimisme akibat masih beredar luasnya narkoba saat ini ? Seakan-akan tak ada gunanya merubah kebijakan sosial maupun institusional dan sistem yang mendukung upaya pemulihan jangka panjang.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.