Pemulihan Pecandu Narkoba

Recovery

Pemulihan Pecandu Narkoba

Seringkali orang tua pecandu bertanya kepada terapis atau dokter apakah anaknya bisa sembuh atau pulih? Pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab atau bahkan jawaban yang tepatpun belum tentu dapat diterima oleh orang tua pecandu.

Jawaban terapis atau dokter bisa tidak tepat apabila ia tidak memahami karakteristik adiksi sebagai suatu penyakit. Bisa tidaknya seorang pecandu narkoba “sembuh” tentulah harus dilihat dari sudut pandang adiksi sebagai suatu penyakit otak kronis yang kadangkala kambuh (chronic relapsing brain disease).

Kalaupun jawabannya sudah tepat, ketika menerangkan apa sesungguhnya adiksi dari aspek medis, orang tua masih sangsi,apalagi kalau penjelasannya sangat sarat muatan teknis medis. Faktor lain yang memperkuat lagi kesangsian itu adalah adanya stigma di masyarakat bahwa kecanduan adalah masalah moral, atau sosial. Bahkan pecandu dianggap sumber memalukan dan sampah masyarakat. Belum lagi persepsi penegak hukum yang melihat kecanduan narkoba sebagai kriminal dan memenjarakan pecandu. Klop sudah pembenaran kesesatan bahwa adiksi/kecanduan bukanlah penyakit.Dibutuhkan penjelasan yang tepat dan kesiapan orang tua dalam menerima penjelasan bahwa adiksi narkoba adalah penyakit.

Adiksi sebagai penyakit otak kronis kambuhan
Kemajuan ilmu kedokteran saat ini telah dapat membuktikan bahwa adiksi adalah penyakit otak karena ditemukannya kelainan/patologi di otak. Perubahan yang berdampak pada pikiran, perasaan dan perilaku seseorang. Sifat adiktif narkoba yang awalnya memberikan gratifikasi/kenikmatan luar biasa bagi penggunanya tidaklah mudah dihilangkan dalam waktu singkat. Dikatakan awalnya, karena dalam jangka panjang gratifikasi tersebut tidak dirasakan lagi. Sehingga kalaupun pecandu masih menggunakannya, semata-mata untuk mengurangi rasa nyeri atau pemenuhan khayalan rasa nikmat akibat dihentikannya pemakaian.

Tergantung jenis narkoba yang digunakan, perubahan emosi dan perilaku dapat berupa emosi yang tidak stabil, egois ingin menang sendiri, manipulatif, pembohong,tidak disiplin, serta tingkah laku antisosial lainnya.Gejala ini berlangsung secara kronis, artinya perjalanan penyakitnya berlanjut terus dan semakin memburuk apabila tidak diatasi. Sebagaimana penyakit kronis lain, penyakit kencing manis (diabetes), tekanan darah tinggi atau asma misalnya, dapat diterapi atau dikendalikan tetapi tidak dapat disembuhkan. Istilahnya “treatable”atau “manageable” but not “curable”.

Dan para pecandu yang telah pulihpun mengakui hal ini, sehingga mereka tetap menyebut diri mereka pecandu ketika saling berbagi dalam pertemuan-pertemuan Narkotik Anonimus (NA). Atau secara umum didepan publik lebih tepat disebut sebagai “recovering addict”. Hal ini merupakan sikap rendah diri (humble) para pecandu bahwa kondisi mereka tetap berpotensi kambuh/relaps.

Pemulihan/”Recovery”Karena sifat penyakit seperti itu, saat ini pemulihan lebih tepat disebut sebagai “recovery”. Penggunaan kata “recovery”/pemulihan mengandung makna adanya upaya dari pecandu sendiri untuk berubah mencapai kondisi abstinensia(bebas narkoba), sehat fisik, rasa sejahtera (wellness) dan hidup berkualitas. Tentu saja dalam upaya tersebut terkandung  adanya motivasi internal yang tinggi (client-directed). Istilah “recovery’ ini telah digunakan oleh Kementerian Kesehatan Amerika (SAMHSA) sejak tahun 2011. Dan upaya memulihkan pecandu disebut sebagai manajemen pemulihan/”recovery management”. Pemulihan terjadi melalui upaya pemulihan yang berlangsung lama (long term).Upaya yang ikut melibat-aktifkan pasien ini dipandang lebih tepat menggantikan istilah rehabilitasi dimana pasien cenderung lebih dipandang sebagai objek yang pasif.

Dalam paradigma manajemen pemulihan ini (recovery management), pecandu tidaklah dilihat dari sisi masalahnya saja tetapi terlebih kekuatan (strenght) yang dimilikinya. Bahkan sisi kekuatan pasien ini disebut sebagai “capital” atau kapital/modal untuk pulih/”recovery”. Menurut Cloud & Granfield, ada 3 tipe kapital pemulihan yang dapat dimanfaatkan yaitu kapital individual/personal, kapital keluarga dan sosial serta kapital komunitas dan budaya. Ketiga kapital pemulihan ini bila dirinci lebih jauh meliputi 8 ranah yang dapat dikelola dalam proses pemulihan adiksi

1.       Penemuan makna dan tujuan hidup

2.       Kesehatan fisik dan mental

3.       Keterampilan vokasional/pendidikan

4.       Dukungan keluarga dan sosial

5.       Dukungan rekan sebaya

6.       Dukungan komunitas terintegrasi dan budaya

7.       Adanya pekerjaan dan solusi masalah hukum

8.       Adanya rumah dan lingkungan yang sehat

Semakin banyak/besar kapital yang dimiliki oleh seorang pecandu,  memperkuat upayanya mencapai tujuan pemulihan seperti disebutkan diatas yang meliputi abstinensia (bebas narkoba), sehat fisik, sejahtera (wellness) dan hidup yang berkualitas.

Sebaliknya apabila kapital yang dimiliki kurang atau tidak pernah ada, maka kapital tersebut perlu dikembangkan dalam manajemen pemullihan. Inilah esensi dari penggunaan istilah manajemen pemulihan/ “recovery management”yang tidak dimiliki jika menggunakan istilah rehabilitasi ketika memulihkan pecandu narkoba.

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.