Meth-A-Morphosis akibat Methamphetamine ; zat,gejala dan terapi

meth

Meth-A-Morphosis akibat Methamphetamine ; zat,gejala dan terapi

 Salah satu bentuk Methamphetamine adalah Ekstasi/“club drug” atau narkoba yang biasa digunakan di tempat-tempat hiburan malam, merupakan zat psikoaktif sintetis (zat kimia yang  mempengaruhi jiwa). Zat kimianya disebut MDMA atau Methyl Diethyl Meth-Amphetamine, bersifat merangsang atau stimulan Susunan Saraf Pusat ( Otak dan Sumsum Tulang Belakang). Sehingga menyebabkan euforia, enerjik, perasaan hangat dan bersemangat, gangguan persepsi waktu. Zat ini sangat adiktif, menyebabkan kecanduan yang kuat.

Di Amerika, nama jalanannya adalah E, 4 Dot, Beans, Rolls, Wafers, XTC, White Nothing dan Hug Drug. Di Indonesia, biasanya hanya dikenal dengan nama Ekstasi. Cara penggunaan adalah dengan menelan zat dalam bentuk tablet. Dikenal juga dengan nama “designer drug” karena dibuat sesuai selera pembuatnya serta efek yang diinginkan. Sehingga dikenal berbagai macam rupa, warna maupun kandungan isinya yang bervariasi walaupun kandungan utamanya adalah methamphetamine.

Efek yang segera dirasakan ketika menggunakan  Ekstasi adalah ; denyut jantung cepat sehingga berdebar-debar, tekanan darah meningkat, gigi gemeretak dan mulut kering, bingung, dehidrasi/kekurangan cairan, depresi dan sulit tidur.

Penggunaan jangka panjang akan menimbulkan gejala-gejala antara lain; rasa cemas, depresi, rasa curiga/paranoid, gangguan pikiran dan daya ingat. Juga ada halusinasi pendengaran, halusinasi raba/seperti ada serangga yang menjalar dibawah kulit,rasa curiga/paranoid, gangguan selera makan. Kadangkala gejala-gejala yang timbul ada variasi karena kandungan Ekstasi tidak persis sama.

Semua gejala diatas terjadi akibat terganggunya produksi zat neurotransmitter di otak yang mengatur perasaan/mood, daya ingat/memory, tidur dan selera makan.

Penggunaan jangka panjang, bila dihentikan akan menimbulkan gejala putus zat/ withdrawal seperti depresi, serangan cemas sampai panik, gejala paranoid/curiga berlebihan, tidak bisa tidur, sulit berkonsentrasi dll.

Pengobatan kecanduan Ekstasi diawali dengan mengatasi gejala putus zat ketika pemakaian Ekstasi dihentikan yang dikenal sebagai detoksifikasi. Bilamana terjadi rasa cemas sampai panik, diberikan obat-obatan anti cemas. Untuk depresi, diberikan antidepresan. Diberikan juga obat-obat anti psikotik untuk mengatasi gejala paranoid atau halusinasi yang timbul.

Setelah gejala putus zat teratasi, dilanjutkan dengan obat-obatan untuk terapi simptomatis jika gejala belum reda sama sekali serta  psikoterapi untuk pemulihan faktor-faktor penyebab timbulnya masalah adiksi. Baik terkait pola pikir, meningkatkan motivasi untuk mempertahankan keadaan abstinesia,masalah keluarga serta faktor sosial lainnya. Juga diberikan keterampilan/skill untuk bisa mengatasi “craving” atau rasa nagih yang kadangkala muncul, yang disebut juga sebagai “suges”. Selain itu juga keterampilan mencegah kambuhnya kecanduan/”relapse prevention skills”.

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.