Oh Pecandu……beribu kebutuhanmu !

Oh Pecandu……beribu kebutuhanmu !

treatmentcomponents

Bagi orang yang kehidupannya tiada hari tanpa pecandu saja, maksudnya yang selalu membantu pecandu,kadangkala ada keluhan seperti judul tulisan ini. Walaupun dia tahu betul bahwa adiksi adalah suatu penyakit yang kompleks. Suatu “chronic relapsing brain disease”. Penyakit yang berlangsung dalam jangka panjang, cenderung progresif kalau tidak diterapi dan kekambuhan merupakan hal lumrah dalam proses pemulihannya/recovery. Mungkin inilah yang disebut sebagai “burn out”, suatu kondisi mental yang melelahkan dalam menjalankan tugas “mengurus” pecandu sebagai rutinitas pekerjaan. Tentu harusnya hanya sebatas keluhan saja,yang perlu diatasi.

Berbeda dengan orang yang tidak mengerti bahwa adiksi adalah penyakit. Mereka berpendapat, menjadi pecandu adalah kesalahan sendiri, merupakan masalah moral, orang tidak tahu diri, tidak sopan, tidak beragama, kriminal, serta hal buruk lainnya. Kesemuanya ini berakibat pemberian cap buruk atau stigma kepada seorang pecandu. Stigma yang membuat pecandu menjauh dari masyarakat. Pastilah hal ini sangat merugikan karena peluang mereka mengakses proses terapi dan rehabilitasi menjadi terhambat.
Menurut data BNN, baru 0,5% populasi pecandu yang terjangkau terapi dan rehabilitasi. Rendahnya angka ini, berarti “demand”/keinginan untuk “pakau” narkoba masih menganga lebar. Sehingga tidak heran pasar narkoba masih marak, dan penyelundupan maupun pabrik narkoba rumahan muncul dimana-mana.
Pertanyaannya, apakah pemerintah – dalam hal ini BNN sebagai “focal point” berdiam diri tidak berbuat apa-apa ? Tentu saja tidak, karena sudah ada Jakstranas P4GN (Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan, dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba ) yang ditanda tangani Presiden pada saat HANI (Hari Anti Narkoba Internasional), 26 Juni 2011. Di dalam Jakstranas tersebut jelas tercantum apa yang harus dikerjakan BNN sebagai “focal point” P4GN berupa misi BNN; “Bersama instansi pemerintah terkait dan komponen masyarakat, bangsa, dan negara melaksanakan pencegahan, pemberdayaan masyarakat, pemberantasan, rehabilitasi, hukum dan kerjasama di bidang pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif lainnya”

Dengan Misi inilah, BNN menjalankan komitmennya untuk mewujudkan “Indonesia Bebas Narkoba 2015. Tentu BNN tidak sendirian karena ada pemangku kepentingan lain/”stake holder”.Dan ini terkait dengan sifat adiksi yang kompleks dengan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi agar pemulihan/recovery berhasil. BNN harus dapat mengoordinasikan berbagai sektor pemerintah dan masyarakat untuk mendukung upaya ini.
Skema NIDA diatas tentang Prinsip-prinsip terapi adiksi narkoba yang dibuat berdasarkan riset, menggambarkan besarnya kebutuhan/”need” pecandu agar terapi berhasil. 8 kotak putih di dalam bundaran kuning, merupakan aspek terapi yang memang sudah menjadi kewenangan sektor kesehatan; mulai dari proses penerimaan pecandu dan assesmen/”intake processing/assesment”, perencanaan terapi/”treatment planning”,terapi obat-obatan/”pharmacotherapy dll.

Sedangkan 10 lingkaran abu-abu kecil merupakan upaya-upaya pendukung/supportif untuk berhasilnya suatu pemulihan/recovery dengan sektor kesehatan sebagai intinya(digambarkan oleh 8 kotak putih). Upaya-upaya dukungan ini sekaligus menggambarkan paling kurang 10 kebutuhan seorang pecandu selain kebutuhan kesehatan. Seorang pecandu karena pemakaian jarum tidak steril atau perilaku seksual tidak terkendali seringkali terinfeksi vitus HIV, karena itu dia membutuhkan konseling HIV, test HIV bahkan terapi antiretroviral/ARV. Bilamana dia punya anak masih kecil, sedangkan dia perlu direhabilitasi dalam waktu lama, dia butuh ada orang yang merawat anaknya di rumah sehingga perlu layanan “Child care”. Selasaipun dia menjalani terapi dan rehabilitasi, dia perlu kerja tapi tidak punya keterampilan maka dia membutuhkan latihan kerja “vocational service”. Kadangkala gara-gara pakau narkoba, emosi tak terkendali, terjadi pula KDRT (kekerasan dalam rumah tangga), akhirnya berurusan dengan polisi sehingga dia perlu pula bantuan hukum. Atau bisa jadi ada masalah hukum terkait narkoba (drug-related crime).

Tidak seperti penyakit lain, seorang pecandu seringkali harus dijangkau/ “outreach” untuk dibawa berobat. Selain tidak termotivasi untuk berobat, biasanya ada masalah ekonomi akibat belanja narkoba yang mahal, itupun sampai menjual harta benda yang ada. Akibatnya tidak memiliki cukup uang untuk mengakses terapi dan rehabilitasi,sehingga perlu layanan finansial. Demikianlah beberapa contoh dari 10 kebutuhan/need selain kebutuhan terkait kesehatan yang perlu diatasi agar tujuan pemulihan/recovery tercapai.
Bagi petugas kesehatan yang berada ditengah/center berbagai kebutuhan pecandu tersebut mau tidak mau perlu memikirkannya. Agar pekerjaannya tuntas perlu keterampilan manajemen kasus atau paling tidak dia bekerjasama dengan seorang manajer kasus untuk mencari jalan keluar. Bisa dibayangkan beratnya tugas yang diemban seorang terapis adiksi, sehingga tak heran kalau suatu saat keluh kesah di hatinya berbunyi seperti judul tulisan ini….Oh pecandu…..beribu kebutuhanmu !.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.