Tragedi Tanjung Gusta, harga mahal tiadanya “Love and Care” layanan pecandu Narkoba di Lapas

Tragedi Tanjung Gusta, harga mahal tiadanya “Love and Care” layanan pecandu Narkoba di Lapas

Lapas Kelas I Tanjung Gusta, Medan ter(di)bakar pada hari Kamis 11Juli 2013, jam 19.00 malam. Warga binaan ada yang terperangkap dan tewas tetapi juga banyak yang kabur melarikan diri.

Banyak pendapat menyoroti peristiwa mengejutkan ini, terutama kaitannya soal remisi bagi koruptor, teroris , pecandu narkoba dll. Juga masalah listrik, air hingga sikap sipir yang suka melakukan pungli. Tetapi yang jarang dibicarakan adalah masalah pola sikap (“mind set”) yang menjadi hulu dari muara semua persoalan yang terjadi.

Rekan saya Amir Syarifudin, seorang WN Malaysia pendiri program TC di Penjara Kajang, Kuala Lumpur dengan jujur dan apa adanya mengatakan bahwa “mind set” petugas Lapas adalah sekuriti. Sehingga sulit diharapkan tumbuhnya “love” ataupun ‘care” dalam layanan yang diberikannya. Apakah ini dapat membantu merubah sikap warga binaan, tanyanya pula. Terlebih bila dikaitkan dengan kebutuhan pecandu narkoba yang sesungguhnya adalah orang yang sakit. Hal ini dikatakannya kepada sejawatnya petugas Lapas Cipinang ketika berkunjung bersama saya kesana, tahun 2010.

Apa yang dikatakan Amir tersebut mungkin ada benarnya, karena hingga saat ini layanan bagi pecandu narkoba di Lapas masih belum ada kemajuan. Walaupun BNN sudah memfasilitasi program terapi dan rehabilitasi di Lapas sejak 2005.

Sesuai indikator Indonesia Bebas Narkoba 2015, BNN khususnya Deputi Rehabilitasi berupaya mencapai indikator yang telah menjadi konsensus di antara negara ASEAN tersebut. Salah satunya adalah terdapatnya layanan Terapi & Rehabilitasi di Lapas.

Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari pelatihan SDM, magang di tempat rehabilitasi, melengkapi sarana dan prasarana untuk rehab sosial dengan pengadaan alat band, alat sablon maupun untuk rehabilitasi medis dengan pengadaan obat-obatan dan reagensia dll di Lapas. Bahkan pernah mengirimkan tenaga Lapas untuk studi banding ke Lapas Kajang di Kuala Lumpur yang terkenal memiliki program T&R yang bagus yakni program Therapeutic Community yang berbasis Lapas ( Prison Based TC ). Tetapi hingga saat ini program T&R di Lapas masih jauh dari memadai.

Apa yang terjadi di suatu Lapas seperti yang akan saya kemukakan ini, merupakan salah satu yang disebut sebagai bukan perkara mudah dalam menjalankan program T&R di Lapas.

Deputi Rehabilitasi BNN, sesuai fungsinya dalam memperkuat tempat-tempat rehabilitasi pemerintah dan masyarakat, tahun 2011 mengirim tenaga konselor ke instalasi rehabilitasi narkoba di suatu Rumah Sakit Jiwa. Atas inisiatif BNN, tenaga tersebut diminta juga memberikan program T&R di Lapas.

Konselor tersebut yang juga seorang “recovering addict” (istilah salah kaprah kalau disebut sebagai mantan pecandu ) melaksanakan kegiatan dengan antusias. Mulailah diadakan berbagai kegiatan T&R seperti morning meeting, konseling atau berbagi pengalaman dan perasaan/feeling, NA meeting dll.

Kegiatan berjalan lancar selama lebih kurang 3 bulan, sampai suatu ketika ada sidak Lapas oleh aparat penegak hukum.

Saat sidak, seperti biasanya ditemukanlah beberapa barang yang seharusnya tidak boleh ada di Lapas seperti hand phone, uang, hingga narkoba dan alat-alat untuk menggunakan narkoba seperti jarum suntik, bong dll.

Disinilah awal bubarnya program T&R di Lapas tersebut, dimana konselor yang menjalankan program dituduh sebagai mata-mata (“cupu”) bagi aparat keamanan. Konselor dijadikan “kambing hitam”masalah yang ada di Lapas.

Selanjutnya konselor mulai mendapat ancaman, sehingga petugas Lapas menyarankan agar program dihentikan dulu karena takut terjadi insiden yang tidak diinginkan.

Program T&R di Lapas terhenti, dan sangat disayangkan tidak ada upaya melanjutkan program dengan mencari solusi atau inisiatif untuk mengatasi  masalah seperti itu. Dapat dimengerti, kemudian layanan kepada warga binaan yang pecandu narkoba kembali ke “status quo” , layanan yang diwarnai oleh “mind set” sekuriti/keamanan tersebut.

Peristiwa diatas baru salah satu contoh, masih banyak cerita tidak adanya program layanan T&R di Lapas, atau adanya program T&R yang perlu segera diperbaiki mutunya.

Hikmah dibalik peristiwa Tanjung Gusta semoga membawa harapan perbaikan layanan bagi warga binaan terutama bagi pecandu Narkoba.

 

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.