Program 12-Steps dan 12-Traditions NA, walau efektif untuk pemulihan pecandu tetapi kurang berkembang di Indonesia.

Program 12-Steps dan 12-Traditions NA, walau efektif untuk pemulihan pecandu tetapi kurang berkembang di Indonesia.

aaanaa

Sejarah singkat NA

Awalnya adalah Alcoholic Anonymous (AA) yang dirintis oleh Bill Willson dan Dr. Bob Smith dua orang Alkoholic pada tahun 1935 di Ohio Amerika Serikat.

Pada tahun 1953 Jimmy Kinnon di California, Amerika yang awalnya mengadopsi 12 Steps dan 12 Traditons AA menjadi 12 Steps dan 12 Steps NA dengan sedikit modifikasi. Dan pada 14 September 1953 direstui oleh AA, untuk menggunakan nama Narcotic Anonymous ( NA ).

Keanggotaan dan organisasi

Tradisi ke-3 NA menyatakan satu-atunya syarat untuk menjadi anggota NA adalah adanya “dorongan keinginan untuk berhenti pakau”. Meeting NA adalah pertemuan dimana anggota NA bertemu secara teratur untuk saling bantu agar tetap “clean”. Dimana “clean” berarti seorang pecandu mutlak berhenti pakau sama sekali/ “abstinesia” dari penggunaan semua zat psikoaktif yang mempengaruhi jiwa/mental-emosional. NA adalah organisasi persaudaraan pecandu yang bersifat nirlaba dan menolak segala bentuk kepentingan politik atau pengaruh lainnya. Keanggotaan NA bersifat sukarela, gratis, dan tidak ada iuran.
Dasar dari program Narkotik Anonimus adalah 12-Langkah dan 12-Tradisi.

Sebagai organisasi NA tidak memberikan opini atau pendapat apapun terhadap isu diluar organisasi, termasuk politik, keilmuan ataupun pengobatan dan juga tidak menominasikan organisasi lain manapun. Persaudaraan pecandu tidak mempromosikan organisasinya, tetapi mencari pecandu melalui informasi dan penjangkauan/”outreach”

Hakekat adiksi dari perspektif NA

NA menjelaskan adiksi narkoba sebagai suatu penyakit yang progresif yang tidak diketahui  kesembuhannya, yang menyentuh seluruh kehidupan pecandu, fisik, mental, emosional dan spiritual. NA yakin bahwa adiksi narkoba dapat ditahan/”arrested”, dan pemulihan/”recovery” dimungkinkan melalui program 12-langkah. NA berpendapat, adiksi adalah penyakit dan penggunaan narkoba hanyalah salah satu gejala. Gejala lainnya adalah obsesi, kompulsi, denial dan sikap egosentris.

Pertemuan NA/ “NA meetings”

Pertemuan-pertemuan anggota NA diadakan secara teratur pada tempat yang sudah ditentukan. Dapat diadakan dimana saja. Di ruang pertemuan perpustakaan, rumah sakit, organisasi kemasyarakatan, taman atau tempat lain yang memungkinkan. Sifat pertemuan dapat bersifat terbuka untuk semua orang/”open meeting” atau bersifat terbatas hanya untuk pecandu saja yang bersifat tertutup/”close meeting”.

 

Sejarah NA Indonesia

Bagaimana sejarah NA di Indonesia, tidak begitu jelas karena tidak ada tulisan bagaimana NA dikenal di Indonesia. Yang pasti di Bali, sudah sejak 1990 an ada kelompok-kelompok NA/ NA groups yang diprakarsai oleh orang asing yang ada di Bali/ekspatriat.

Pada tahun 2000, Rumah Sakit Jiwa Marzuki Mahdi yang waktu itu dipimpin oleh dr. Amir Hussein Anwar, Sp.KJ(alm) bekerjasama dengan Yayasan Permata Hati Kita dengan tokohnya David Gordon dan Joyce Jaelani (Psychologist) mengadakan pelatihan NA selama 5 hari.

Saya sebagai Direktrur RSJ Pontianak waktu itu mengirim drg. Ary Mardiana untuk mengikuti pelatihan. Sepulangnya dari pelatihan di Bogor saya ikut mempelajari materi pelatihan yang diberikan sehingga saya mencoba memahami step- step NA. Dengan komunikasi yang intensif lewat internet dengan dr. Amir Hussein, David Gordon dan Joyce Jaelani, saya semakin mengenal NA dan mencoba memfasilitasi pertemuan-pertemuan NA dengan para pecandu Pontianak dan drg. Ary Mardiana. Karena pecandu Pontianak saat itu tidak pernah melihat bagaimana jalannya pertemuan NA, maka saya memimpin sendiri pertemuan NA.

Pada bulan Juni tahun 2001, ada Konvensi NA Dunia/ World NA Convention di Bali. Saya mengirim 3 orang dari Pontianak sebagai partisipan yaitu drg. Ary Mardiana, dan 2 recovering addict Tri Utomo dan Uun. Sepulangnya dari konvensi, Tri Utomo dan Uun sudah lebih mengerti apa itu NA dan dapat memimpin jalannya pertemuan. Sehingga saya dapat melepas pimpinan/leader pertemuan NA yang seyogyanya memang dari pecandu untuk pecandu.

Pada April 2002 ada lagi Konvensi NA Asia Pacific di Taman Mini Jakarta. Dari Pontianak berangkat 6 orang; saya, drg. Ary Mardiana, Tri Utomo, Yoga, Denni, dan seorang lagi recovering addict yang lupa namanya. Selanjutnya NA Pontianak terus berkembang hingga sekarang dan semua aktivisnya clean dan sober hingga saat ini. Tri Utomo sekarang bekerja sebagai PNS di Pontianak, Ir. Yoga bekerja di Trakindo Pontianak.

Pada tahun 2005 bersama Adit Gimbal, Patri Handoyo, saya ikut memfasilitasi pertemuan NA di kantor BNP Jawa Barat yang berlokasi di Jl. Diponegoro 1 Bandung, di sebelah Gedung Sate.

Hingga saat ini (2013) masih ada pertemuan/meeting NA di beberapa kota seperti Jakarta, Bandung, Pontianak, Samarinda, Surabaya, Banjarmasin, Makassar walaupun yang hadir sangat sedikit. Tidak seperti awal dikenalnya NA permulaan tahun 2000, dimana harapan NA akan membawa pemulihan sangat besar.

Apakah kemudian kurangnya minat terhadap NA karena pemahaman para pecandu yang masih remaja terhadap sesuatu yang spiritual masih rendah ? Hal ini mungkin saja terjadi karena ketika memulai NA di Pontianak dulu, saya sering mendapat pertanyaan “ape omong-omong jak bise membuat kita pulih dok” ?.

 

 

 

 

.

1 Comment
  • valen rumaikewi

    March 6, 2016 at 3:38 am

    NA wadah yg luar biasa …
    hebat……………..
    semangat…….
    teruusss……….