Kepiluan keluarga ditengah pusaran drama kehidupan pecandu narkoba

Kepiluan keluarga ditengah pusaran drama kehidupan pecandu narkoba

 

Mungkin tidak banyak yang membayangkan bahwa seorang pecandu sebenarnya ada ditengah suatu cerita drama pilu yang endingnya sering tak dapat diprediksi. Apalagi kalau cerita itu kita “baca” dari awal.

Umumnya masyarakat memandang “pecandu  narkoba” ibarat cerita yang sudah “tamat”. Sehingga memberi mereka cap atau label atau stigma sebagai sesuatu yang buruk. Sampah masyarakat, pembohong, kriminal, orang tak tahu diri yang tidak peduli orang lain dan hampir semua yang buruk ditimpakan kepada mereka. Tentu ini tidak semuanya benar walaupun memang perilaku mereka ada yang seburuk disebutkan diatas. Tetapi perlu diingat perilaku seperti itu terjadi karena mereka ada dibawah pengaruh narkoba.

Kalaulah masyarakat mengetahui tali temali peristiwa yang terjadi dalam kehidupan pecandu yang ujung-ujungnya memperlihatkan perilaku yang berlawanan dengan norma yang ada dimasyarakat, tentu masyarakat akan berpendapat lain.

Yang pasti awal ceritanya adalah beredarnya barang haram itu dengan mudah dan murah di masyarakat. Walaupun mulanya hanya iseng mau mencoba, ditambah adanya faktor predisposisi tertentu maka proses menjadi pecandu akan berjalan. Ribuan zat kimia otak yang disebut sebagai neurotransmitter mulai terganggu fungsinya. “Reward system” atau sistim ganjaran yang berjalan dibawah pengaruh neurotransmitter tadi dipicu oleh rangsangan yang sangat berlebihan. Akhirnya sistim ganjaran ini butuh rangsangan berulang yang hanya terpenuhi oleh zat kimia yang namanya narkoba.

Apakah semua orang yang mencoba narkoba itu terpengaruh sistim ganjarannya ketika mencoba narkoba?. Ternyata menurut penelitian para pakar tidak semua orang punya kerentanan yang sama. Ini dipengaruhi oleh faktor genetik dan kematangan perkembangan otak yang berpengaruh pada kemampuan kontrol diri dan kemampuan memutuskan sesuatu sebagai baik atau buruk.

Juga ada faktor luar diri lainnya yang berpengaruh. Seperti kehidupan keluarga yang permisif tak terbatas atau serba boleh. Pola asuh masa kecil yang tidak mengajarkan sikap bertanggung jawab dalam keluarga. Kemiskinan dan perubahan nilai-nilai sosial masa kini yang memacu persaingan, sikap ingin cepat senang atau hedonisma, hilangnya kebersamaan, gotong royong dan saling bantu ikut mendorong seseorang anak muda menenggak narkoba untuk menghilangkan kegalauan hatinya.

Simaklah cerita berikut ini; seorang ibu yang biasa sibuk, mendatangi seorang dokter untuk konsultasi karena anaknya menjadi pecandu narkoba. Dia merasa malu karena selain dia orang yang sibuk, suaminya juga adalah pejabat yang terpandang di kota itu. Karena tidak sanggup mengendalikan tingkah laku anaknya, akhirnya si ibu setuju anaknya dirawat di tempat rehabilitasi narkoba. Karena berbagai komplikasi yang ada, ketika menjalani rehabilitasi suatu ketika terjadi penurunan kesadaran. Dokter merujuk anak tersebut ke rumah sakit umum  yang punya perawatan intensif. Sebagaimana suatu rawatan intensif, berbagai pemeriksaan laboratorium dilakukan termasuk pemeriksaan kemungkinan infeksi virus HIV, virus penyebab penyakit AIDS.

Ternyata disinilah awal dirasakannya drama. Si dokter RSU yang “objektif” memanggil sang ibu, memberitahukan bahwa si anak ternyata positif terinfeksi HIV.  Ibarat tsunami di pagi bolong, si ibupun pingsan. Dokter tersebut  tidak mempersiapkan lebih dahulu mental sang ibu dengan suatu konseling untuk menerima informasi tersebut. Tidak cukup sampai disitu, karena si dokter takut rumahsakitnya tertular penyakit berbahaya ini memberitahu sang ibu bahwa anaknya harus dipindahkan kembali ke tempat rehabilitasi narkoba. Ibarat jatuh tertimpa tangga pula, si ibu dengan tergopoh-gopoh dan kebingungan menemui kembali dokter rehabilitasi narkoba. Dia tidak habis pikir mengapa anaknya yang masih digelantungi botol-botol infus harus dikembalikan ke tempat rehabilitasi.

Sementara waktu si ibu merasa tenang karena dokter rehabilitasi memberi tahu dokter rawatan intensif RSU bahwa dia tidak bisa begitu saja mengembalikan pasien yang masih dalam keadaan kritis. Sehingga pasien harus  tetap dirawat dirumah sakitnya hingga keadaan kritisnya teratasi.

Si ibu kembali ke rumah sakit rawatan intensif tersebut dengan perasaan lega karena anaknya yang belum pulih kesadarannya masih bisa dirawat di rumah sakit itu. Ketika anaknya mulai sadar beberapa hari kemudian si ibu memberitahu anaknya bahwa dia terinfeksi HIV. Kalau tadinya si ibu yang dilanda “tsunami” dahsyat, sekarang anaknyapun merasakan pukulan mental hebat mendengar penjelasan ibunya. Apa yang terjadi ?, sebagamana orang yang dilanda stres – dalam pilihan “lawan atau lari”- si anak ternyata mengambil pilihan terakhir. Si anak melarikan diri dari rumah sakit umum tersebut.

Tak tahu tempat mengadu, si ibupun kembali ke dokter rehabilitasinya. Si ibu sedikit terhibur ketika dokter rehabilitasinya mengatakan bahwa anaknya gak akan lari kemana, sebagaimana pengalaman pasti kembali ke rumah. Benar saja, tidak berapa lama kemudian si anak kembali ke rumah, karena memang dia tidak sanggup hidup mandiri.

Disatu sisi ibunya senang bahwa anaknya kembali pulang, tetapi disisi lain ternyata dia membawa juga tuntutan baru, ingin menikah ! Belum selesai satu masalah, si ibu dan keluarga dihadapkan dengan masalah baru.

Ditengah kebingungan si ibu membawa kembali anaknya ke dokter rehabilitasi untuk konsultasi apa yang harus diperbuat. Pertanyaan pertama yang diajukan oleh dokter rehabilitasi adalah apakah sudah punya calon dan apakah sudah ada hubungan sex ? Jawabannya cukup lugas, “sudah dok”!

Bagi dokter rehabilitasinya hal ini bukan masalah, yang jadi dilemma adalah bagaimana kalau pihak wanita bertanya apakah calonnya terinfeksi HIV ?. Apakah dia bisa menjawab berterus terang? Disatu pihak infeksi HIV ini bisa menular, dipihak lain dia terikat pada kode etik kedokteran yang harus menjaga rahasia pasiennya.

Tetapi bagi si ibu ternyata merupakan pukulan baru lagi, berpikir panjang apa yang akan terjadi selanjutnya.  Apakah pihak calon mantunya bisa menerima anaknya. Kalaupun bisa menerima seperti apa keluarga anaknya nanti, tidak punya pekerjaan dan penghasilan, terinfeksi HIV pula, bagaimana dengan isterinya nanti, kalau hamil bagaimana dan apakah cucunya tidak akan terinfeksi, serta puluhan pertanyaan lainnya yang tidak sanggup dia banyangkan jawabannya.

Si ibu hanya tertunduk diam, tak tahu mau berbuat apa di tengah pusaran drama kehidupannya, sejenak ruang konsultasi hening.

Bagaimana sikap kita melihat drama yang terjadi ini ?.

No Comments

Sorry, the comment form is closed at this time.